Kuat Tekan Beton

loading...

Mutu beton selalu digambarkan sebagai kuat tekan beton. Yang di-highlight di sini adalah tekan, soalnya di situlah kekuatan utama beton, yaitu efektif menahan tegangan tekan yang tinggi.

Oleh karena itu, untuk memperoleh atau mengetahui kekuatan atau mutu suatu beton, dilakukanlah suatu tes atau uji kekuatan beton, yang dinamakan Compressive Test atau Uji Kuat Tekan. Tes ini sifatnya WAJIB untuk semua beton struktural. Ada ketentuan-ketentuan tertentu dalam pengambilan sampel untuk tes. Prosedur dan metode tes dibahas di bagian lain. Salah satu referensi yang cukup menarik bisa dibaca di sini.

Mutu beton – menurut standar yang berlaku – dinyatakan dalam fc’ dengan satuan MPa (Mega Pascal), di mana 1 MPa = 1 N/mm2.

Di Indonesia, perlahan-lahan mutu fc’ sudah mulai banyak digunakan di proyek skala menengah ke atas, namun untuk proyek kecil masih banyak yang menggunakan mutu K dengan satuan kg/cm2.

Catatan: di dalam website ini, penggunaan satuan beban yang baku adalah Newton (N) dan kiloNewton (kN). Jika ada penggunaan beban dalam satuan kilogram (kg) atau ton (t), maka itu adalah penyederhanaan sebutan untuk satuan yang lebih baku yaitu kilogram force (kgf) dan ton-force (tf). Kebetulan di Indonesia masih lebih “nyaman” menggunakan satuan kg untuk beban/gaya.

Apa Perbedaan Mutu fc’ dan K?

Tergantung sampelnya. Kalau sampelnya berbentuk silinder, maka kekuatannya dinyatakan dalam fc’. Sementara jika benda uji atau sampelnya berbentuk kubus, maka kekuatannya dinyatakan dalam K.

Mengubah atau melakukan konversi mutu dari fc’ ke K atau sebaliknya ngga bisa dilakukan hanya sekedar dengan konversi satuan saja, dari MPa ke kg/cm2 atau sebaliknya. Tapi memang ada faktor pengali lain.

Jika ada sebuah campuran beton, diuji dengan dua uji tekan yang berbeda, yang satu dengan sampel silinder dan satunya dengan sampel kubus, maka kedua sampel tersebut akan memberi hasil yang berbeda (walaupun satuannya diset sama).

Misalnya, sebuah benda uji silinder standar (misalnya, diameter 15cm, tinggi 30cm), diuji tekan, dan menghasilkan kuat tekan sebesar X1 kg/cm2 atau N/mm2.

Kemudian, sampel yang lain dari campuran yang sama, berbentuk kubus standar (misalnya 15cm x 15cm x 15cm), juga diuji tekan, dan menghasilkan kuat tekan sebesar X2 kg/cm2 atau N/mm2 (harus sama dengan X1).

Nilai X1 dan X2 itu ngga bakal sama. X1 selalu menunjuk angka yang lebih kecil daripada X2.

Rasionya bervariasi sesuai dengan mutu beton itu sendiri. Semakin tinggi mutunya, semakin mendekati nilai X1 dan X2 itu. Tapi, secara praktis di dalam desain dan analisis, rasio kekuatan benda uji silinder terhadap kekuatan benda uji kubus adalah rata-rata 0.85.

Ini bukan konversi, ini adalah perbandingan hasil uji kuat tekan.Untuk melakukan konversi, dari mutu fc ke mutu K, kita baru boleh melakukan melalui konversi satuan secara langsung dan dikalikan dengan faktor rasio 0.85 di atas.Kalo kita uraikan sebagai berikut.1 kg/cm2 = berapa MPa?1 kg = 9.81 N1 cm2 = 100 mm2.dan 1 MPa = 1 N/mm2.Sehingga,1 kg/cm2 = 9.81/100 N/mm2.1 kg/cm2 = 0.0981 MPa.Kemudian kita kalikan lagi faktor 0.85 (rasio dari benda uji kubus ke benda uji silinder), sehingga:1 mutu K (satuan kg/cm2) = 0.0981 x 0.85 mutu fc’ (satuan MPa)1 mutu K = 0.083 mutu fc’.

f’c = 0.083 x K

Inilah persamaan pendekatan praktis yang paling sering digunakan baik dalam perencanaan maupun dalam pelaksanaan.Kenapa harus pakai mutu fc’?Karena semua code dan standard untuk PERENCANAAN – baik lokal maupun internasional – sudah seragam menggunakan mutu fc’ di dalam perhitungan desain struktur beton.Lalu kenapa masih ada yang pakai mutu K?Karena belum semua standar industri PRODUSEN dan PRAKTISI di lapangan mengadopsi mutu fc’ di pedoman atau pelaksanaan struktur beton. Atau dengan kata lain… “pasar” masih banyak menggunakan mutu K, sementara desain sudah mulai pelan-pelan menyeragamkan menggunakan mutu fc’.