Pembebanan

loading...

Pembebanan termasuk hal yang sangat penting di dalam analisis dan desain struktur, termasuk struktur beton bertulang. Kenapa penting? Karena sebuah struktur memang didesain harus kuat menahan beban yang ada. Kalo ngga ada beban, buat apa dianalisis? 🙂

Pada dasarnya, beban yang dikenal yang paling banyak bekerja pada sebuah struktur bisa dibagi menjadi 2: beban mati (dead load) dan beban hidup (live load).

Beban mati adalah beban yang bersifat relatif tetap, permanen, ngga berubah-ubah dalam waktu yang singkat. Beban mati yang pertama dan utama adalah berat sendiri struktur. Sementara sisanya berasal dari komponen-komponen yang “melekat” pada struktur. Kadang beban mati selain berat sendiri ini dikasih golongan tersendiri, misalnya Beban Mati Tambahan (Additional Dead Load), atau Superimposed Dead Load. Contoh beban mati selain berat sendiri antara lain: keramik (dan screed-nya), dinding atau tembok permanen, langit-langit (ceiling) beserta rangka dan isinya, penutup atap, dll.

Beban hidup adalah beban yang relatif tidak tetap, baik itu dalam jangka waktu yang singkat maupun lama. Beban hidup biasanya berasal dari benda-benda yang bergerak, bisa dipindahkan, atau benda lain yang beratnya bisa berubah-ubah sesuai waktu. Secara umum, biasanya beban hidup berasal dari pengguna struktur itu sendiri, dari manusia, dari perabot, asesoris, furnitur, partisi ringan, termasuk air pada kolam renang.

Selain dari dua beban utama di atas, dikenal lagi beban-beban lain yang perilakunya seperti beban hidup (berubah-ubah), tetapi dalam analisis dan desain selalu dipisahkan karena punya karakteristik yang khusus buat masing-masing beban, antara lain:

  • Beban angin, yaitu beban yang berasal dari tekanan angin. Tekanan angin muncul karena adanya perbedaan kecepatan aliran udara, atau karena impuls (tumbukan) dari aliran angin itu sendiri.
  • Beban gempa, yaitu beban dinamis yang berasal dari pergerakan tanah akibat gempa.
  • Beban tekanan air tanah, yaitu beban yang berasal dari adanya air di bawah permukaan tanah. Biasanya beban ini bekerja pada dinding basement, atau pada lantai yang elevasinya berada di bawah muka air tanah. Beban ini ada yang bekerja secara lateral (ke samping), dan juga ada yang bekerja ke arah atas (up lift).
  • Beban tekanan tanah, yaitu beban yang berasal dari tanah, tapi hanya ke arah lateral saja.
  • Beban temperatur, beban yang muncul karena adanya perubahan temperatur yang menyebabkan struktur mengalami perubahan regangan. Untuk struktur beton, beban temperatur tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Untuk struktur baja, khusus di Indonesia, pengaruhnya juga kecil karena perubahan temperatur lingkungannya relatif kecil dibandingkan di wilayah sub-tropis misalnya.
  • Beban salju. Jelas ini ngga lazim dijumpai di Indonesia. Jadi… skip aja ya.
  • Beban air hujan. Air itu berat jenisnya 1 gr/cm3 atau 1 ton/m3. Berat. Dan kadang cukup berpengaruh terhadap struktur atap. Makanya untuk daerah yang punya curah hujan yang tinggi, beban air hujan ini kadang menjadi pertimbangan juga.
Peraturan Pembebanan

Di peraturan atau standard untuk beton, seperti ACI 318 maupun SNI 2847, masalah pembebanan ngga dijabarkan secara detail. Hanya diberi penjelasan tentang kombinasinya terkait desain batas yang digunakan. Coba baca lagi di bagian Desain Filosofi. Untuk kondisi batas layan maupun batas ultimit, ACI 318 / SNI 2847 hanya memberi panduan tentang kombinasi pembebanan untuk masing-masing batas desain.

Untuk pembebanan yang lebih detail memang butuh satu bahkan lebih pedoman khusus. Di Amerika (dan penganut aliran US), mempunyai ASCE 7 yang mengatur lebih detail mengenai pembebanan. Sementara di Indonesia, ASCE 7 ini diadopsi dan “diekstrak” menjadi dua jenis SNI:

  • SNI 1726-2012, yang khusus membahas tentang beban gempa.
  • SNI 1727-2013, berisi pedoman pembebanan umum selain beban gempa, misalnya beban mati, beban hidup, dan beban angin.