Susut Pada Beton

loading...

Beton bisa menyusut? Betul. Susut pada beton sebenarnya ada 2, susut pada saat beton masih basah, dan susut pada saat beton sudah kering.

Susut pada saat beton masih basah lebih banyak disebabkan karena air pada permukaan beton yang terekspos menguap ditempa panas dan angin. Susut yang terjadi di sini bisa diatasi dengan curing atau menjaga permukaan beton tetap basah, baik itu dengan ditutup atau disiram (disemprot sedikit air). Paling ngga sampai beton itu mulai mengeras.

Pada saat beton sudah mengeras, tetap juga terjadi susut. Di dalam beton yang mengeras, ada partikel-partikel air yang terperangkap atau menyatu dengan adukan. Molekul air ini adalah molekul air yang ngga terhidrasi (bereaksi dengan semen).

Molekul-molekul air ini, kalo menguap, keluar meninggalkan beton, maka beton akan menyusut. Tapi ngga semua molekul air bisa menguap dan keluar dengan bebas.

Yang jelas molekul air yang berada di dekat permukaan yang tereksposlah yang berpeluang paling besar untuk berevaporasi alias menguap. Semakin banyak air yang menguap, semakin besar susutnya.

Kalo mau dibayangkan seperti apa susut yang ekstrim itu, bisa dilihat pada tanah yang mengering. Itu adalah fenomena susut karena air yang terkandung di tanah – khususnya lapisan terluar – menjadi hilang (menguap), sehingga tanah lapisa atas menjadi menyusut, retak, dan pecah.

image

 

Konsepnya kurang lebih seperti itu, sehingga dari situ bisa kita lihat lebih dalam lagi, faktor-faktor apa saja yang

mempengaruhi susut pada beton ini.

Faktor Air-Semen

Semakin banyak air yang ada di dalam beton, berarti semakin besar susut yang bisa terjadi.

Tipe Semen

Semen portland adalah tipe semen yang paling umum digunakan untuk pembuatan beton di hampir semua jenis struktur. Ada beberapa jenis semen lain yang karakteristiknya beda dengan semen portland, misalnya ada semen yang bersifat low-heat cement. Tipe ini justru lebih banyak “menjebak” air di dalamnya, sehingga susut yang terjadi akan semakin besar.

Jumlah dan Ukuran Agregat

Ukuran agregat yang kecil-kecil namun banyak, itu lebih banyak mengikutkan air di dalam beton, dibandingkan agregat yang ukurannya besar-besar. Dan sekali lagi… semakin banyak air di dalam beton, semakin besar susutnya.

Zat Aditif

Zat aditif itu seperti obat, ada efek sampingnya. Salah satu efek samping zat aditif tertentu adalah, mengikat air, meningkatkan jumlah air di dalam beton. Kalo air sudah meningkat, susut juga ikut naik.

Kelembaban dan Temperatur Lingkungan

Kalo ada beton dengan kadar air yang tinggi, tapi berada di lingkungan yang kelembaban tinggi dan suhu rendah, yaa tetap aja airnya susah menguap. Jadi, semakin kering suatu lingkungan dan atau semakin tinggi temperatur lingkungan, semakin besar susut pada beton.

Bentuk dan Ukuran Elemen Beton

Susut terjadi karena air yang menguap dan keluar meninggalkan beton. Semakin jauh dari permukaan, semakin susah air itu keluar. Elemen pipih/bidang seperti pelat (slab), dinding (wall), dan cangkang, punya peluang jauh lebih besar untuk mengalami susut dibandingkan elemen garis seperti balok atau kolom, karena elemen bidang punya permukaan terkespos yang jauh lebih besar dibandingkan elemen garis.

BERAPA NILAI SUSUT BETON?

Pada beton normal (plain, nggak bertulang), nilai susut bervariasi di antara 200 hingga 700 x 10-6. Nilai yang sering digunakan antara 300 hingga 500×10-6.

Misalnya, untuk susut = 500 x 10-6, itu artinya, jika ada beton (tak bertulangan) dengan panjang 5 m (5000 mm), dia akan mengalami susut sebesar 2.5 mm.

Bagaimana cara mencegah agar susut itu ngga terjadi? Tentu harus ditahan, dan yang menahannya adalah baja tulangan. Itulah makanya dikenal istilah tulangan susut khususnya pada elemen pelat atau dinding.

Kalau kita hitung-hitung, dengan susut sebesar 500 x 10-6 (0.0005), ini sebenarnya adalah regangan, yang kalau kita kalikan dengan modulus elastisitas beton (sekitar 20.000 MPa), akan diperoleh tegangan dalam (internal stress) sebesar 20.000 x 0.0005 = 10 MPa. Tegangan sebesar inilah yang harus mampu ditahan oleh baja tulangan.